Sembako

Sembako adalah suatu kebutuhan yang kita gunakan sehari-hari. Sembako merupakan kependekan dari sembilan bahan pokok. Istilah ini mulai populer ketika krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998 dimana saat itu nilai tukar Rupiah terhadap dollar mencapai angka Rp 16.650 per 1 dollar.

Kala itu pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Industri dan Perdagangan no. 115/mpp/kep/2/1998 tanggal 27 Februari 1998 yang memberikan kategori sembilan bahan pokok diantaranya :

  1. Beras dan Sagu
  2. Jagung
  3. Sayur-Sayuran dan Buah-Buahan
  4. Daging (Sapi dan Ayam)
  5. Susu
  6. Gula Pasir
  7. Garam yang Mengandung Yodium / Iodium
  8. Minyak Goreng dan Margarin
  9. Minyak Tanah atau Gas Elpiji

Pada kondisi krisis saat itu, banyak tenaga kerja dirumahkan. Lapangan pekerjaan menjadi begitu sulit didapat. Rata-rata perusahaan mengencangkan ikat pinggang dengan melakukan banyak efisiensi anggaran.

Imbas dari situasi tersebut menjadi efek berantai ke banyak aspek dan cukup membuat banyak pihak berteriak terutama masyarakat bawah. Pengangguran bertambah diiringi dengan tingkat depresi meningkat. Harga kebutuhan melonjak tinggi karena ongkos transportasi yang ikut naik mempengaruhi harga pokok penjualan barang.

Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang kemudian bangkit. Alih-alih menunggu bantuan dari pemerintah, masyarakat tipe ini lebih proaktif (memiliki inisiatif) untuk membangun bisnis atau usaha kecil-kecilan.
Pun termasuk sistem bisnis waralaba mulai populer pada waktu itu. Rata-rata orang masih belum familiar dengan sistem waralaba atau disebut juga franchise.
Yaitu sistem bisnis yang memungkinkan orang tidak perlu membangun bisnis dan sistemnya dari end to end. Dengan membeli sebuah hak jual dari pewaralaba sehingga berhak menggunakan merk, brand, sistem dan prosedur yang sudah ada, sudah terbukti berjalan dan diikat dalam sebuah kesepakatan bisnis.

Salah satu sistem waralaba yang menjamur adalah waralaba minimarket yang menjual barang kebutuhan sembako dan kebutuhan Fast Moving Consumer Goods ( FMCG).

Tren pertumbuhan perusahaan waralaba minimarket meningkat pesat dan didominasi 2 pemain besar. Sebut saja si biru dan si merah yang kita tahu lokasinya sering kita temukan berdekatan bahkan berdampingan dan lazim kita temui hampir di setiap kelurahan.

Sempat mendapat penolakan dari masyarakat dan pasar tradisional, tidak menyurutkan pertumbuhan kedua waralaba minimarket ini.

Sisi positif dari fenomena ini adalah masyarakat meniru konsep penjualan minimarket seperti si biru dan si merah. Ketika lokasi rumah berjauhan dengan si biru dan si merah, seakan memiliki peluang besar untuk membuka usaha sembako yang melayani masyarakat sekitar.

Sedikit punya lahan di rumah yang dapat dirombak menjadi toko atau warung, modal secukupnya, tinggal mencari tempat kulakan grosir atau agen besar, sudah bisa membuka warung atau toko sembako “rasa” minimarket.

Dari awalnya hanya 1-2 warung sembako yang berdiri, sekarang sering kita jumpai disepanjang jalan mudah kita temukan warung atau toko sembako.

Karena selain mudah untuk dijalankan, bisnis sembako juga tidak memiliki barrier of entry yang ketat sehingga siapapun dapat dengan mudah terjun ke bidang bisnis ini.

Lantas, pertanyaannya masihkah relevan membuka bisnis sembako di saat ini ?

Menurut opini penulis, sembako merupakan kebutuhan primer yang tidak dapat diganggu gugat. Artinya tidak dapat ditunda, walalupun dapat di gantikan(subsititusi) jika tidak dapat terpenuhi. Misalkan kebutuhan beras dapat disubstitusikan ke jagung atau gandum(roti).

Karena sifatnya memenuhi kebutuhan harian, seiring pertumbuhan penduduk kebutuhan akan sembako bukan menjadi menurun namun akan terus naik.

Jadi usaha di bidang ini sangatlah prospektif untuk dijalankan dan tidak berlebihan jika dikatakan bisnis yang ngga ada matinya.

Namun tetap saja, seleksi alam yang akan membuat jatuh bangun para pemain di bisnis apapun tak terkecuali bisnis sembako. Semua bergantung dari banyak faktor beberapa diantaranya diawali dari dalam diri orang itu sendiri seperti pengetahuan finansial, manajemen resiko, dan pondasi bisnis si pemilik warung atau toko dan juga faktor eksternal : stabilitas dan kebijakan ekonomi negara.

Untuk kondisi internal paling banyak mempengaruhi sukses tidaknya pebisnis sembako. Hanya bermodal ikut-ikutan, atau tidak memiliki pilihan lain untuk jualan apa.
Nekat membuka warung sembako tanpa pengalaman dan tanpa pengetahuan dasar perhitungan untung rugi. Tidak jarang warung sembako dan toko sembako gulung tikar.

Kesimpulannya, jika anda saat ini memiliki cukup modal namun bingung untuk memulai bisnis atau jualan apa. Sembako dapat menjadi pilihan. Selain relatif mudah memulainya, sembako akan terus dicari orang.
Namun anda harus tahu akses ke supplier ke mana, mulailah dari bertanya tanya di pasar sekitar rumah anda. Bertanyalah pada sales yang datang atau bagian kurir-biasanya truk box. Pelajari alur distribusi barangnya ke mana. Pelajari apa saja barang yang laku dijual dan berapa keuntungannya. Hitung pula berapa ongkos kirimnya. Itupun kalo mereka berkenan untuk berbagi informasi. Atau cara lain dengan belanja di agen besar, bertanya kepada orang yang antri membeli sembako untuk tokonya. Cek apa saja barang yang dibelanjakan.

Namun jika anda tidak ingin repot memikirkan semuanya, anda bisa mencoba produk dari Kora Indonesia yaitu Agen KORA.
apa itu agen Kora ? bisa anda lihat di agen.kora.id

Keuntungannya anda tidak harus repot cari supplier lagi, dan anda bebas mengatur profit sendiri dan yang ongkos kirim gratis jika berbelanja minimal Rp 1.000.000.

Selamat mencoba.

WhatsApp Whatsapp Kami